Manajemen Da’wah Rosulullah saw: Dalam Merubah Masyarakat

Manajemen Da’wah Rosulullah saw: Dalam Merubah Masyarakat

Oleh :

Syukron Ma’mun, M.Pd.I I.

I.Pendahuluan Umat Islam telah diberi amanah oleh Allah s.w.t sebagai umat da’wah, yaitu umat yang dilahirkan untuk menyampaikan yang hak dan menghilangkan berbagai macam kemungkaran baik yang dilakukan oleh pribadi, kelompok, maupun yang dilakukan oleh masyarakat secara bersama-sama. Bahkan apabila kita perhatikan Al-qur’an dan As-sunah maka kita akan mengetahui, sesungguhnya da’wah mempunyai posisi yang utama, sentral, strategis, dan menentukan. Keindahan dan kesesuaian Islam dengan perkembangan zaman, baik dalam sejarah maupun prakteknya sangat ditentukan oleh kegiatan da’wah yang dilakukan umatnya. Islam adalah agama da’wah, artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif dalam kegiatan da’wah, kemajuan dan kemunduran umat Islam sangat berkaitan erat dengan kegiatan da’wah yang dilakukannya. Oleh karena itu predikat terbaik ( Khairu Ummah ) dalam Al-alqur’an yang diberikan Allah kepada umat Islam apabila keseluruhan umat Islam terlibat aktif dalam kegiatan da’wah Firman-Nya dalam surat Ali-imran ayat 110

Artinya : ‘’ Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar...’’. ( Q.S. Ali-imran;110 )

Pada hakekatnya da’wah Islam merupakan aktualisasi imani yang dimanipestasikan dalam suatu kegiatan system manusia beriman, dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur, untuk mengetahui cara merasa, berpikir, bersikap, dan bertindak manusia, pada dataran kenyataan indifidual dan sosio-kultural, dalam rangka mengusahakan terwujudnya ajaran Islam dalam semua segi kehidupan manusia dengan menggunakan cara tertentu. Sistem da’wah memiliki fungsi mengubah lingkungan secara lebih terinci, yang memiliki fungsi meletakan dasar ekstitensi masyarakat Islam, menanamkan nilai-nilai keadailan, persamaan, persatuan, perdamaian kebaikan dan keindahan, sebagai inti pergerakan perkembangan masyarakat; membebaskan individu dan masyarakat dari system kehidupan zalim ( Tirani, totaliter ) menuju sitem yang adil, menyampaikan kritik sosial atas penyimpangan yang berlaku dalam masyarakat, dalam rangka pengemban tugas nahi munkar, dan memberi alternative konsepsi atas kemacetan system, dalam rangka menyampaikan amar ma’ruf, meletakan system sebagai inti penggerak jalannya sejarah

Mengingat fungsi dan peran da’wah sangat penting dan menentukan maka da’wah dan segala sesuatu yang berkaiatan dengannya, harus dipahami secara tepat dan benar, sejalan dengan ketentuan Al-qur’an, sunah Rasul, dan Sirah Nabawiyah yang berisikan petunjuk bagaimana da’wah itu dilakukan, sehingga menghasilkan pribadi-pribadi yang istiqomah dan tangguh, dan melahirkan tatanan kehidupan masyarrakat yang Islami.

Sudah bukan waktunya lagi da’wah dilakukan asal jalan, tanpa sebuah perencanaan yang matang, baik menyangkut materinya, tenaga pelaksananya, ataupun metode yang dipergunakannya. Memang, sudah ,menjadi Sunatullah bahwa yang hak akan menghancurkan yang batil ( Q.S. Al- isra 81 ) tetapi sunatullah ini berkaitan dengan sunatullah yang lain, yaitu bahwasanya Allah sangat mencintai dan meridhoi kebenaran yang diperjuangkan dalam sebuah barisan yang rapi dan teratur, sebagaimana dalam firman-Nya dalam surat Ash-shaf Ayat 4 ;

Artinya; ‘’ Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang dijalan-Nya. Dalam barisan yang rapi seperti suatu bangunan yang kokoh’’.( Q.S Ash-shaf ; 4 ) .

Segala persoalan kemasyarakatan yang semakin rumit dan komplek yang dihadapi oleh umat manusia itu merupakan masalah yang harus dihadapi dan diatasi oleh pendukung dan pelaksana da’wah. Begitu pula kenyataan semakin meningkatnya kampanye dan serangan pemikiran menentang Islam yang diderita oleh masyarakat Islam, dalam bentuk seruan atheistis, seperti komunisme, sekulerisme,liberalisme dan lain sebagainya adalah juga merupakan problema da’wah yang harus dihadapi

Untuk menghadapi masala-masalah da’wah yang semakin berat dan meningkat itu, peyelenggaraan da’wah tidak mungkin dapat dilakukan oleh perorangan atau sendiri-sendiri dan secra sambil lalu saja, Tetapi harus dikerjakan oleh para pelaksana da’wah secara bersama-sama dalam satu kesatuan yang teratur rapi, dengan terlebih dahulu direncanakan dan dipersiapkan semasak-masaknya, serta mempergunakan sistem kerja yang efektif dan effisien. Dengan perkataan lain , bahwa dalam menghadapi obyek da’wah yang sangat kompleks, dan dengan problemanya yang kompleks pula, maka penyelenggaraan da’wah akan berjalan secara efektif dan effisien apabila terlebihdahulu dapat didefinisikan masalah-masalah yang akan dihadapi, kemudian atas dasar hasil pengenalan situasi dan kondisi medan, maka disusunlah rencana da’wah yang tepat, kemampuan untuk mengidentifikasikan masalah, kemudian menyusun rencana yang tepat, mengatur dan mengorganisir para pelaksana da’wah dalam kesatuan-kesatuan tertentu, kemudian menggerakan dan mengarahkanya pada sasaran-sasaran atau tujuan yang dikehendaki, begitu pula kemampuan untuk mengatasi atau mengendalikan tindakan-tindakan da’wah, dapat disebut dengan satu istilah ’’ Manajeman Da’wah’’.--

II. Manajeman Da’wah Rosulullah saw: Dalam Merubah Masyarakat Allah SWT tidak menciptakan sebuah uamat, kecuali menyertakan seorang rasul yang akan memberikan peringatan dan kabar gembira kepada mereka. Para utusan Allah bertugas untuk membenahi tata kehidupan manusia serta membimbing mereka kearah kebaikan dan kebenaran. Para Rasul Allah akan menyeru umat manusia kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Begitu juga dengan Rasulullah saw, beliau sebagai Uswah Hasanah ( suri tauladan yang baik ) yang harus diikuti oleh umatnya, dalam segala hal, cara berekonomi, cara berpolitik, cara memimpin, dan cara berda’wah

Da’wah yang dilakukan oleh rasul merupakan suatu gerakan da’wah yang sistematis dan tertata dengan rapih sehingga dalam waktu yang relatif singkat kurang lebih dua puluh tahun. Mampu menyebarkqan Islam hampir sepertiga dunia. Ini adalah merupakan suatu prestasi gemilang yang perlu kita perhatiakan dan contoh, bagaimana hal itu bisa terlaksana dan tercapai

Apabila perjalanan da’wah yang berada langsung dibawah pimpinan Rasulullah saw, diperhatiakan, maka akan terlihatlah nbahwa penyelenggaraan da’wah yang dipimpin beliau itu benar-benar didasarkan atas hasil pemikiran dan perhitungan yang matang mengenai berbagai kemungkinan yang akan dihadapi dimasa depan, setelah beliau melakukan pengamatan dan penganalisaan terhadap situasi dan kondisi yang ada, sehingga da’wah yang bgeliau pimpin dan selenggarakan dapat berjalan secara tertib dan teratur rapi, sehingga secara bertahap dapat mencapai sasaran-sasaran yang dikehewndaki sebagai contoh, dari da’wah Nabi yang penuh perhitungan dan ketertiban itu adalah ; setelah menerima wahyu berupa ayat pertama dari surat Al-mudatsir, yang berisi agar beliau tegak melakukan inzar ( peringatan ), maka mulailah nabi saw melaksanakan da’wah. Dalam melakukan da’wah yang mula-mula itu nabi tidak melaksanakan seruannya kemasyarakat umum secara terbuka, tetapi da’wah nabi ini dilakukanya secara rahasia untuk menghindari tindakan buruk orang-orang Quraisy yang panatik terhadap kemusrikan dan peganismenya. Nabi saw tidak menampakan da’wahnya dimajlis-majlis umum orang-orang Quraisy, dan tidak melakukan da’wah kecuali kepada orang-orang yang memiliki hubungan kerabat dan kenal baik sebelumnya. .Oleh sebab itulah sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Syafiyyurrahman Al-Mubarakhfury dalam sirahnya, maka da’wah nabi yang pertama kali adalah ditunjiukan kepadaa orang-orang yang paling dekat, anggota keluarga dan sahabat-sahabat karib beliau

Beliau menyeru mereka kepada Islam, juga menyeru siapapun yang dirasa memiliki kebaikan,yang sudah beliau kenal secara baik dan merekapun mengenal nabi secara baik, yaitu mereka yang memang mencintai kebaikan dan kebenaran, serta mengenal dan kelurusan beliau. Dalam tarikh Islam, mereka dikenal dengan sebutan As-sabiqunal awwalun ( yang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam ). Mereka adalah istri beliau. Khadijah binti Khuwalidin, pembantu beliau Zaid bin Haritsah bin Syurahbil Al-Kalabi, anak paman beliau Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar As-shidiq, mereka masuk Islam pada hari pertama dimulainya da’wah.

Ketika orang-orang menganut Islam lebih dari tiga puluh lelaki dan wanita, Rasulullah memilih rumah salah seorang dari mereka, yaitu rumah Al-Arqoram bin Abi Al-Alqoram, sebagai tempat koordinasi untuk mengadakan kaderisasi dan pengajaran.

Tidak diragukan lagi, bahwa kerahasiaan da’wah nabi saw selam tahun-tahun pertama ini bukan karena kekhawatiran nabi terhadap dirinya, sebab ketika beliau dibebani da’wah dan diturunkan kepadanya firman Allah ’’ hai orang-orang yang berselimut , bangunlah lalu berikanlah peringatan’’. . Beliau sadar bahwa dirinya adalah utusan Allah kepada manusia. Karena itu, beliau yakin bahwa Allah akan mengutusnya dan membebaninya dengan tugas da’wah ini mampu melindungi dan menjaganya dari gangguan manusia. Tetapi Allah memberikannya ilham kepada nabi saw, dan ilham itu adalah sebagai wahyu yang diturunkan kepadanya, agar memulai da’wah pada tahapan awal dengan rahasdia dan tersembunyi, serta tidak disampaikan kecuali pada orang-orang yang diyakini akan menerimanya. Ini dimaksudkan sebagai pelajaran dan bingbingan bagi para da’i sesudahnya agar melakukan perencanaan ( planning ) secara cermat dan mempersiapkan sarana dan prasarana ( organizing ) yang diperlukan untuk mencapai sasaran dan tujuan da’wah. .----------- Tetapi hal ini tidak boleh mengurangi rasa tawakal kepada Allah semata, dan tidak boleh dianggap sebagai faktor yang paling menentukan, sebab hal itu akan merusak prinsip keimanan kepada Allah, disamping bertentangan denagn tabiat da’wah kepada Islam. Disini dapat diketyahui bahwa uslub da’wah Rasulullah saw pada tahapan ini merupakan syiyasah syari’ah ( kebijaksanaan ) darinya sebagi nabi sekaligus imam ( pemimpin ). Oleh karena itu jelaslah bahwa da’wah yang dilakukan oleh nabi adalah sebuah gerakan yang sistematis, teratur, penuh perhitungan dan perencanaan yang matang yang harus dijadikan pedoman oleh setiap juru da’wah dan organisasi da’wah yang ada setelah beliau.------- A. Perencanaan ( Planning ) da’wah rasulullah saw.

Perencanaan (planning) merupakan salah satu sarat agar tujuan atau sasaran-sasaran suatu organisasi bisa dengan mudah dapat dicapai. Sebagaimana disebutkan diatas bahwa salah satu tujuan da’wah secara khusus adalah merubah manusia yang musyrik untuk menyembah Allah dan membebaskannya dari perbudakan serta membentuk umat yang bersatu padu.-----

Maka pertama-tama yang beliau lakukan adalah membentuk pribadi muslim dengan ruh dan jiwa tauhid, kurang lebih sepuluh tahun yang dikenal dengan istilah periode Makkah. Sehingga tidak ada perbedaan anatara yang lemah dengan yang kuat, yang kaya dengan yang miskin, kaum bangsawan dengan hamba sahaya, kecuali dengan keimanan dan ketaqwaan mereka, dan merubah seorangn arab menjadi seorang muslim. Kalau kita perhatikan perjalanan da’wah yang dipimpin oleh Rasulullah saw maka akan terlihat adanya pemikiran dan perencanaan yang matang.

Adapun perencanaan da’wah Rasulullah saw tersebut adalah sebagai berikut:

 A.1. Mencari tempat srategis

Menurut Dr. Abdul Qadir Abu Faris, ketika Rasululllah saw berada dikota Makkah, Rasulullah melihat kemungkinan Makkah tidak strategis menjadi baris da’wah Islamiah,. Beliau sudah sering mengajak penduduknya masuk Islam padahal mereka adalah kaum dan keluarganya sendiri dan orang-orang yang paling tau tentang beliau. Meski begitu mereka kafir kepada Nabi saw dan da’wahnya. Mereka mendustakan Rasulullah, mengintimidasi beliau dan orang-orang yang beriman kepada beliau, bahkan mereka menjuluki beliau dan para pengikutnya ’’ Sufaha’’ ( orang- orang yang bodoh, ketinggalan zaman ). Dan mereka tidak pernah berhenti dan menteror dan menganiaya beliu dan para sahabatnya. . Ketika Nabi saw melihat keganasan kaum musrikin kian hari bertambah keras, sedang beliau tidak dapat melindungi kepada kaum muslimin, maka beliau berkata kepada mereka’’ Alangkah baiknya jika kamu berhijrah kenegri Habasyah, karena disana terdapat seorang raja yang adil sekali. Dibawah kekuasaan ntya tidak boleh seorangpun dianiaya. Karena itu, pergilah kalian kesana sampai Allah memberikan jalan keluar kepada kita, karena negri itu adalah negeri yang cocok bagi kalian’’. .Maka berangkatlah kaum muslimin kenegeri Habasyah demi menghindari fitnah, dan lari menuju Allah dengan membawa agama mereka, Hijrah ini merupakan hijrah pertama dalam Islam.

Diantara orang-orang yang hijrah keHabasyah adalah mereka yang mempunyai kekebalan dalam segi hukum adat dan tradisi yang berlaku pada masyarakat tersebut, dan mempunyai posisi yang kuat dalam kaumnya. Mereka bukan kaum Mustadh’afin ( lemah ) seperti budak atau orang-orang fakir, tapi mereka adalah pemuka-pemuka kaumnya masing-masing, pemikir-pemikir ulung dan mempunyai segudang pengalaman seperti, Ustman bin Affan dan istrinya, Raqoyyah bin Muhammad, Abu Hazaifah bin Utban dan istrinya, Zubair bin Awwam, Mush’ab bin Umair, Ustman bin Mazh’un. Hijrah nabawiah dari Makkah ke madinah dan Habasyah tidaklah terjadi secara kebetulan sebagaimana dikatakan sebagian orang sesungguhnya orang yang mempelajari sirah dengan jeli akan tau bahwa hijrah adalah hasil proses pencarian yang panjang, obsevasi yang matang dan dirasah ( penelitian ) yang mustamirah ( kontinue ) terhadap situasi negara-negara dan para pemeluk agama yang ada saat itu. Sebagaimana diakui oleh M. Nasir. ” Saya sangat tertarik pada dua pokok pekerjaan yang tercantum dalam program atau yang akan dijadikan program oleh lembaga da’wah yaitu;1. Research dan analisa. 2. Logistik, memang disinilah letaknya satu kelemahan dari pada usaha-usaha da’wah kita selama ini’’.

B.2.- Menggetahui situasi dan kondisi suatu negeri Sebelum Rasulullah hijrah ke Habasyah terlebih dahulu beliau dan para sahabatnya mengadakan dirasah dan mempelajari situasi dan kondisi negri Habasyah, apakah negri tersebut bisa dijadikan basis da’wah Islamiah. Hijrah kehabasyah mempunyai tujuan yang banyak diantaranya, menghindari fitnah, sebagaimana perkataan Rasulullah kepad sahabatnya, ’’ Bagaiman kalau kalian berangkat kenegri Habasyah, karena rajanya tidak mengizinkan seorangpun dijalimi didalamnya, dan negeri tersebut adalah negeri yang benar, hingga Allah memberi jalan keluar bagi penderitaan yang kalian alami.

C.3.- Mempersiapkan tahapan atau menyusun strategi da’wah--- a. Da’wah secara rahasia Da’wah secra rahasia atau sembunyi-sembunyi yang dilakukan oleh Nabi sebagimana yang disebutkan diatas, bukan karena kehawatiran terhadap ancaman,penyiksaan dan penganiayaan orang-orang kafir Quraisy terhadap dirinya, sebab ketika beliau dibebani da’wah dan turun kepada beliau firman Allah SWT. Artinya: “ Hai Orang-orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah peringatan” ( Qs. Al-Mudatsir:1-2) Beliau sadar bahwa dirinya adlah utusan Allah kepada manusia, karena itu, beliau yakin bahwa Allah yang telah mengutus dan membebani dengan tugas da’wah ini mampu melindungi dan menjaganya dari gangguan manusia. Tetapi Allah memberikan ilham kepadanya, agar memulai da’wah pada tahapan awal secara rahasia dan tersembunyi, dan tidak menyampaikan kecuali kepada orang-orang yang diyakini akan menerimanya. Ini dimaksudkan sebagai pelajaran dan bimbingan bagi para da’i sesudahnya agar melaksanakan perencanaan secara cermat dan mempersiapkan sarana-sarana yang diperlukan untuk mencapai sasaran dan tujuan da’wah.

b. Da’wah secara terang-terangan. Setelah Nabi melakuakan da’wah secara tersembunyi kurang lebih selam tiga tahun. , maka Nabi diperintahkan untuk menyebarkan Islam secara terang-terangan. Ibnu Ishaq berkata,’’ Kemudian orang-orang masuk Islam, laki-laki dan perempuan secara bergelombang , hingga pembahasan tentang Islam menyebar di Makkah, dan Islam menjadi bahan perbincangan. Setelah itu Allah Azza Wajalla memerintahkan Rasul-Nya mengungkapkan apa yang beliau bawa dari-Nya dengan terang-terangan, memperlihatkan perintah Allah kepada manusia, dan mengajak mereka kepada-Nya. Rentang waktu antara Rasulullah saw merahasiakan perintah-Nya hingga Allah Ta’ala memerintahkan beliau memperlihatkan perintahnya sebagaimana diperintahkan kepadaku’’ Kemudian Allah SWT berfirman kepada Rasulullah saw dalam surat Al-Hijr ayat 94

 Artinya; ’’ Maka sampaikan olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan ( kepadamu ) dan berpalinglah dari orang-orang yang musrik.’’ ( Q.S Al-Hijr: 94 )

B. Pengorganisasian (Organizing) Da’wah Rosulullah saw. Pengorganisasian dapat dirumuskan sebagai “rangkaian aktivitas menyusun suatu kerangka yang menjadi wadah bagi segenap kegiatan usaha da’wah dengan jalan membagi dan mengelompokan pekerjaan yang harus dilaksanakan, serta menetapkan dan menyusun jalinan hubungan diantara satuan-satuan organisasi atau petugasnya

Menurut Dr. Tani Handoko, pengorganisasian (organizing) adalah penentuan sumber daya dan kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi

Rosulullah saw adalah seorang organisatoris yang tangguh dan tak kenal lelah. Pasca hijrah beliau bersama kaum muslimin langsung menyusun program-program yang akan dilaksanakan di Madinah guna tercapainya tujuan-tujuan da’wah yang sudah ditentukan. Beliau senantiasa memobilisisr umat untuk berjihad, menciptakan masyarakat muslim yang kuat, mengkoordinasi militer, dan menyempurnakan perangkat Negara. 1. Menyusun Program-program da’wah

Pasca Hijrah Rosulullah saw memfokuskan perhatiannya pada program-program penting sebagai berikut:

a. Membangun Masjid

b. Takaful Ijtima’i (senasib sepenanggungan)

c. Menertibkan penduduk daulah Islamiyah

d. Membina Persaudaraan e. Menjalin hubungan dengan orang-orang diluar Islam

f. Pembagian tugas da’wah

C. Penyusunan personal Da’wah (Staffing)

Da’wah yang merupakan proyek besar karena berkaitan dengan perubahan manusia, maka personal-personal da’wah atau para da’i harus benar-benar orang-orang pilihan yang memiliki kelebihan dan disiplin ilmu tertentu sesuai dengan bidang yang digelutinya dan siap pakai. Begitu juga dengan personal da’wah atau para da’i yang mendampingi nabi adalah para sahabat sebagai manusia pilihan yang mempunyai kepribadian yang tangguh dan tetap setia bersama nabi baik dalam keadaan suka maupun duka dan rela berkorban apa saja demi tegaknya agama allah dimuka bumi ini

 Adapun personal-personal da’wah yang mendampingi dan membantu da’wah nabi adalah sebagai berikut:

1. Khadijah

2. Abu Bakar

3. Orang-orang yang tertindas

4. Umar Bin Khatab

5. Pemuda-pemuda yang beriman

6. membentuk aparat negara (Staf Organisasi) dan menempatkan orang-orang untuk mendudukannya.

Sebelum meninggal dunia, Rosulullah saw telah memilih para wali, Qadhi, dan Jubad (petugas yang menagani masalah ekonomi). Beliau telah memilih aparat atau personal-personal yang sesuai dengan kebutuhan organisasi dan untuk ditempatkan pada posisi masing-masing sesuai dengan bidangnya.

D. Kepemimpinan Rosulullah saw

1. Penguasaan da’wah secara teori dan praktek

2. Kemampuan Rosulullah untuk meneruskan Da’wahnya

3. Kemampuan Rosulullah dalam mendidik, menata, dan memberdayakan pengikutnya

4. Kredibilitas Rosulullah saw dihati para pengikutnya.

5. Kemampuan mengoptimalkan pengikutnya baik inteletual maupun fisik serta menempatkannya pada posisi yang sesuai 6. Kemampuan Rosulullah untuk memecahkan segala persoalan a. Masalah peletakan Hajar Aswad

b. Persoalan kaum Munafiqin

c. Penyelesaian Masalah Hijrah

E. Evaluasi da’wah Rosulullah saw Setiap Usaha sekecil apapun hendaknya diadakan evaluasi atau penilaian, apalagi sebuah proyek besar seperti da’wah Islamiyah. Penyelenggaraan da’wah dapat berjalan dengan baik dan efektif, bilamana tugas-tugas da’wah yang telah diserahkan kepada pelaksana itu benar-benar dilaksanakan serta pelaksanaannya sesuai dengan rencana dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. Apabila perjalanan da’wah yang berada langsung dibawah pimpinan Rosulullah saw diperhatikan, tampaklah bahwa beliau juga melakukan fungsi pengendalian dan penilaian, demi tercapainya sasaran dan kebijakan yang telah beliau tentukan. Pada peristiwa fathul Makkah misalnya, beliau pernah mengambil tindakan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyimpangan terhadap kebijakan yang telah beliau tetapkan, setelah beliau menerima laporan adanya gejala penyimpangan itu. Ketika hendak memasuki kota Makkah dalam peristiwa futuh itu.Maka untuk menghindari terjadinya kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, nabi membagi pasukan umat islam dalam empat kelompok. Masing-masing kelompok diperintahkan memasuki kota Makah dari jurusan yang berbeda-beda

Kelompok pertama pasukan sayap kiri , dengan komandannya Zubair bin Awwam, memasuki kota Makkah dari arah sebelah utara,kelompok kedua pasukan sayap kanan, dengan komandannya Khalid bin walid, masuk dari arah hilir, kelompok ketiga yang terdiri dari kaum Anshar, dengan komandannya Sa’ad bin Ubadah, masuk dari sebelah Barat, sedang kelompok keempat, pasukan yang terdiri dari mihajirin dengan komandannya,Abu Ubaidah bin jarrah Memasuki kota Makkah dari arah sebelah hulu, yaitu dari bukit hindi. Sebelum keempat pasukan itu bergerak menempati posisi yang telah ditentukan, maka Rosulullah saw, memberikan garis kebijakan sebagai berikut;

“Bahwa masing-masing tidak boleh mempergunakan kekuatan senjata atau melakukan kekerasan yang menimbulkan pertumpahan darah, kecuali memang sangat terpaksa. Sabda nabi kepada para komandan:”Bahwa mereka tidak boleh memerangi melainkan kepada orang-orang yang memerangi mereka.”

III. Penutup Dari uraian diatas menunjukan bahwa ilmu manajemen sangatlah mendukung dalam keberlangsungan da’wah, agar da’wah itu dapat berjalan secara teratur dan sistematis serta meraih hasil yang memuaskan

Daftar Pustaka :

Shaleh, Abdul Rasyid, manajemen Da’wah Islam, Jakarta ,Bulan Bintang,1997 Abu Faris, Muhammad Abdul Qodir, Sistem Politik Islam,Terjemahan Mustholah Maufur,Jakarta,Rabbani Press,1999 Departemen Agama RI. Al-qur’an dan Terjemah, Q.S Al-Mudatsir ayat I Hafidhuddin, Didin, Tafsir Al-hijri Kajian Tafsir surat Al-maidah, Ciputat Indah Permai, Kalimah 2001 _, Dakwah Aktual, Jakarta. GIP.1998 Abu faris, Muhammad Abdul Qadir, Hijrah Nabawiah menuju komunitas Muslim, Cip, Solo 1997 Al-Buthy, Muhammad sa’id Ramadhan, Sirah Nabawiyah, Buku kesatu, Rabbani Press, Jakarta, 1990 Handoko, T. Tani, Manajemen Edisi 2 Khalil, Munawwar, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw, Jilid III B, Jakarta;Bulan Bintang, Abu Bakar, Hasanudin, Meningkatkan Mutu Da’wah, Jakarta, Media Da’wah, 1999 Al-Ghazali, Muhammad, Fiqih Sirah, Kuala Lumpur,Pustaka Jiwa Sda, 1996 Al-Mubarakhfury, Syaikh Syafiyyurrahman, Sirah Nabawiyah, Pustaka Al-kautsar,2001